JAKARTA - Gelombang ekspansi industri global mulai mengubah peta logistik nasional sepanjang 2025.
Kawasan Jabodetabek menjadi salah satu titik paling dinamis, terutama di sektor pergudangan modern. Permintaan ruang logistik melonjak signifikan dan mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah, didorong kuat oleh investasi asal China yang semakin agresif masuk ke Indonesia.
Data dari JLL Indonesia menunjukkan bahwa sepanjang 2025, total permintaan ruang logistik di Jabodetabek mencapai hampir 500.000 meter persegi. Angka tersebut melampaui capaian rekor sebelumnya pada 2023 dan menjadi tonggak baru dalam perkembangan pasar properti industri nasional.
Baca JugaHarga Minyak Dunia Tertekan Akibat Pelemahan Permintaan Global
Rekor Permintaan Sepanjang Sejarah
Pasar pergudangan logistik di kawasan Jabodetabek menunjukkan performa yang menggembirakan di sepanjang 2025. Hal ini salah satunya didorong oleh masifnya investasi asal China, khususnya pada sektor manufaktur.
JLL Indonesia mencatat, lonjakan permintaan ruang logistik di sepanjang 2025 mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah, yakni mencapai hampir 500.000 meter persegi. Angka ini melampaui rekor sebelumnya pada 2023.
Head of Research JLL Indonesia, James Taylor, menyebutkan performa positif ini tercermin dari peningkatan tingkat hunian, dari 90% di kuartal pertama menjadi 96% pada kuartal keempat 2025, menjadi salah satu yang tertinggi di Asia Tenggara.
“Saya rasa tidak ada pasar di kawasan ini yang mencatat tingkat permintaan mendekati Indonesia pada 2025,” ungkap James.
Pernyataan tersebut menegaskan posisi Indonesia, khususnya Jabodetabek, sebagai pasar logistik dengan pertumbuhan paling menonjol di kawasan regional. Tingkat hunian yang melonjak tajam dalam satu tahun menunjukkan bahwa suplai yang tersedia mampu diserap dengan sangat cepat oleh pasar.
Investor China Serap Produk Siap Pakai
Country Head and Head of Logistics & Industrial JLL Indonesia Farazia Basarah menuturkan, investor asal China tidak hanya membeli lahan untuk dikembangkan sendiri, mereka juga kini aktif menyerap produk siap pakai, mulai dari gudang modern hingga rental building factory untuk kebutuhan produksi ringan.
“Investor dan okupier dari China tidak hanya membeli lahan lalu membangun sendiri, tetapi juga mencari produk yang sudah siap pakai,” jelasnya.
Menurut Farazia, ruang yang banyak dicari saat ini antara lain gudang yang dapat dikonversi menjadi rental building factory atau digunakan untuk produksi skala ringan.
Kondisi tersebut sejalan dengan kehadiran industri elektronik, e-commerce, hingga peralatan rumah tangga (home appliances) asal China yang cukup agresif di Indonesia sejak tahun lalu, dalam mencari bangunan siap pakai di Indonesia.
Permintaan terhadap gudang modern yang fleksibel menjadi salah satu faktor kunci lonjakan hunian. Model bangunan yang dapat difungsikan ganda, baik sebagai pusat distribusi maupun produksi ringan, dinilai sangat sesuai dengan kebutuhan investor yang ingin bergerak cepat tanpa harus menunggu pembangunan dari nol.
Ekspansi Developer dan Pola Kawasan Industri
Di sisi lain, tren ekspansi ini juga tidak hanya sebatas penyewa. Sejumlah developer asal China mulai mengembangkan kawasan industri dan pergudangan sendiri di Indonesia, sambil membawa tenant dari negaranya untuk beroperasi di dalam kawasan tersebut.
“Di China mereka sudah memiliki rekam jejak sebagai developer kawasan industri. Pola itu kini dibawa ke Indonesia,” kata Farazia.
Langkah ini menunjukkan bahwa ekspansi investor China berlangsung secara terintegrasi. Mereka tidak hanya menjadi penyewa, tetapi juga berperan sebagai pengembang kawasan, menciptakan ekosistem industri yang lebih solid dan berkelanjutan.
Model tersebut memberikan dampak ganda bagi pasar logistik. Di satu sisi, meningkatkan suplai kawasan industri modern. Di sisi lain, memperkuat permintaan karena tenant yang masuk sudah terintegrasi dalam jaringan bisnis yang sama.
Koridor Timur Jakarta Paling Diminati
Secara geografis, permintaan paling banyak terkonsentrasi di koridor timur Jakarta, mencakup Bekasi dan Karawang. Kawasan ini dinilai paling diminati oleh para okupier yang mencari ruang logistik modern dengan akses infrastruktur memadai.
Kedekatan dengan pelabuhan, jalan tol utama, serta kawasan industri eksisting membuat wilayah tersebut menjadi pilihan utama. Infrastruktur yang terus berkembang turut memperkuat daya tariknya sebagai pusat distribusi dan manufaktur.
Data JLL menunjukkan, dua proyek baru masuk pasar pada kuartal terakhir di Jakarta dan Karawang dengan tambahan pasokan sekitar 38.000 meter persegi.
Tambahan suplai ini relatif kecil dibanding besarnya permintaan yang terjadi sepanjang tahun. Hal tersebut menjelaskan mengapa tingkat hunian mampu melonjak hingga 96% pada akhir 2025.
Dengan kombinasi investasi asing yang agresif, kebutuhan ruang produksi ringan, serta lokasi strategis di koridor timur Jakarta, pasar pergudangan logistik Jabodetabek mencatatkan performa terbaiknya sepanjang sejarah pada 2025.
Tren ini sekaligus mempertegas posisi Indonesia sebagai salah satu pusat pertumbuhan logistik paling menonjol di Asia Tenggara.
Sindi
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
BNI Emerald Center Di Central Park: Layanan Premium untuk Nasabah Prioritas
- Jumat, 13 Februari 2026
Kolaborasi Jamkrindo Syariah dan PUI Perkuat Kapasitas Penjaminan Nasional
- Jumat, 13 Februari 2026
Berita Lainnya
Diskon Listrik 50 Persen PLN Kembali Berlaku Februari 2026, Begini Cara Mendapatkannya
- Jumat, 13 Februari 2026
Sering Tak Disadari Inilah Produk Pangan Berbasis Sawit Selain Minyak Goreng
- Jumat, 13 Februari 2026
Pertamina Sigap Penanganan Pasokan BBM Di Daerah Bencana Demi Kemanusiaan Terjaga
- Jumat, 13 Februari 2026
Stok BBM Dan LPG Di Magetan Dipastikan Aman Selama Ramadan Hingga Lebaran
- Jumat, 13 Februari 2026








.jpg)



